Melindungi Data Konsumen di Era New Normal



Pandemi Covid 19 membuat banyak perusahaan untuk berpikir ulang dalam mengoperasikan bisnis dengan memanfaatkan layanan multi-channel. Kehadiran secara fisik di masa saat ini sebisa mungkin diminimalisir untuk mencegah penyebaran dan penularan. Sebagai gantinya, Anda pun harus memanfaatkan teknologi virtual sebaik mungkin.


Contohnya dalam bisnis ritel, di mana saat sebelum pandemi konsumen bisa langsung menuju toko atau ritel untuk berbelanja. Kini, mereka harus beradaptasi dengan berbelanja secara virtual. Dengan cara inilah sebuah bisnis dapat bertahan. Bila sebelumnya teknologi seperti Cloud hanya menjadi opsi, maka saat ini menjadi hal wajib untuk diterapkan.


Menggunakan teknologi IT yang baik, maka Anda perlu membangun infrastrukturnya terlebih dahulu. Dalam membangun infrastruktur IT yang baik, dilansir dari laman Forbes setidaknya ada beberapa hal yang harus dilakukan oleh divisi IT di perusahaan Anda.


Pertama, Anda harus memberikan perlindungan ekstra pada layanan penjualan secara online terhadap konsumen. Kedua, penggunaan layanan Cloud menjadi hal penting di semua lini untuk menyimpan data konsumen secara aman. Ketiga, perusahaan sebisa mungkin harus menyederhanakan manajemen dan mengintegrasikannya dengan IT.


Selain itu, perusahaan juga perlu mempertimbangkan hal penting lainnya. Mulai dari datacenter dari segi hardware. Kemudian, jaringan internet yang aman dan penempatan server (colocation) untuk menjaga jaringan tetap aman dan lancar. Ini dilakukan untuk menciptakan adanya Trusted Network. Dalam konsep ini, infrastruktur IT perusahaan harus mampu mencegah terjadinya lalu lintas dan aktivitas yang tidak wajar dalam jaringan internet yang dapat mengganggu keamanan data.


Perlindungan Data Konsumen Harus Dilakukan


Di era new normal, data konsumen menjadi sangat penting dalam memetakan sebuah bisnis selain menjadi sebuah ‘alat’ untuk transaksi guna meminimalisir kontak fisik secara langsung. Namun, yang menjadi permasalahan utamanya adalah, bagaimana perusahaan melindungi data digital konsumen tersebut dan mengapa hal itu penting?


Menurut IBM yang dilansir dari Fortune ketika terjadi pelanggaran terhadap data digital konsumen, di sini perusahaan dapat merugi hingga 4 juta dolar. Besarnya kerugian yang diderita dari segi biaya tersebut pada akhirnya membuat perusahaan harus sebaik mungkin dalam hal perlindungan data konsumen.

Tidak hanya bagi perusahaan saja, konsumen pun merasa bahwa data yang mereka miliki sangatlah penting. Laporan dari ‘TRUSTe/National Cyber Security Alliance (NCSA) Consumer Privacy Index’ yang dilansir dari CBS News menyebutkan jika masyarakat (dalam laporan tersebut adalah masyarakat di Amerika Serikat) berpendapat bahwa mereka lebih khawatir terhadap data digital atau identitas mereka daripada kehilangan pendapatan utama.


Ketika mereka memberikan data kepada sebuah perusahaan atau bisnis, terutama di era new normal maka mereka pun sebenarnya menaruh harapan besar terhadap perusahaan Anda dalam hal perlindungan. Maka dari itu, sebagai pebisnis yang baik tentu Anda tidak ingin mengecewakan konsumen bukan?

Lantas, bagaimana memberikan perlindungan optimal terhadap data dan identitas digital konsumen ini? Setidaknya ada beberapa cara yang bisa Anda lakukan di bawah ini.


1. Gunakan Enkripsi


Perkembangan teknologi enkripsi mengalami perkembangan pesat dalam mengamankan data dan identitas digital konsumen. Memiliki enkripsi saja sebenarnya tidak cukup. Oleh karena itulah, sebagai pemilik bisnis, setidaknya dalam menghadapi era new normal di mana penggunaan teknologi digital semakin meningkat, Anda pun perlu untuk melakukan update fitur terbaru dalam enkripsi.


Buatlah penjadwalan secara berkala dalam melakukan update fitur enkripsi Anda. Jangan sampai Anda tidak melakukannya dan membuat teknologi enkripsi tersebut seolah ‘ketinggalan zaman’. Hal ini akan menjadi celah bagi para peretas untuk mencuri data dan identitas digital konsumen. Di sini, tidak hanya konsumen saja yang dirugikan sebab juga akan berimbas pada perusahaan Anda.


2. Batasi Akses Informasi


Konsumen beranggapan bahwa tidak semua identitas pribadi dapat diketahui oleh perusahaan. Maka dari itu, Anda perlu untuk menghargai mereka dengan membatasi informasi penting saja. Semakin sedikit Anda memasukkan identitas data digital konsumen untuk data perusahaan, ini dapat meminimalisir peretasan.


Ingat, ketika Anda mengumpulkan data pelanggan dengan jumlah banyak dan tidak perlu itu juga akan membuat cache menjadi lebih besar. Hal tersebut menjadi celah bagi para peretas untuk mencuri data. Kemudian, Anda bisa menanyakan pula kepada konsumen apakah data dan identitas mereka bersedia untuk digunakan oleh perusahaan.


3. Selalu Ingatkan Konsumen tentang keamanan akun digital


Langkah terakhir yang bisa dilakukan oleh perusahaan dalam melayani kebutuhan dan perlindungan data dan identitas digital konsumen adalah dengan mengingatkan mereka. Misalnya dengan memperbarui data baru atau menggunakan password yang kuat.


Bila memungkinkan, bisa dengan menggunakan otentikasi biometrik seperti pemindaian wajah dan sidik jari dan dapat digunakan untuk multi-factor authentication (MFA). Ketika Anda menggunakan otentikasi biometrik ini, pastikan juga penyedia jasanya terpercaya dan aman.

Jika perusahaan maupun pebisnis menerapkan hal-hal penting di atas dalam melindungi data dan identitas digital konsumen, maka mereka pun akan lebih mudah beradaptasi bahkan dapat menghasilkan peluang baru di era new normal.








Source:

3 tampilan
logo.png

About VIDA

VIDA provides a trusted digital identity platform. It empowers individuals and businesses with the ability to effortlessly control their most valuable information – their data and identity – while protecting this private information with the highest standards of security.

Connect with Us

  • Twitter - White Circle
  • Facebook - White Circle
  • LinkedIn - White Circle
  • Instagram - White Circle

copyrights 2019 © VIDA